Fitoremediasi
Kontaminasi pada
tanah dan perairan diakibatkan oleh banyak penyebab termasuk limbah industri,
limbah penambangan, residu pupuk, dan pestisida hingga bekas instalasi senjata
kimia. Bentuk kontaminasi berupa berbagai unsur dan substansi kimia
berbahaya yang mengganggu keseimbangan fisik, kimia, dan biologi tanah.
Kontaminasi oleh logam berat seperti kadmium (Cd), seng (Zn), plumbum (Pb),
kuprum (Cu), kobalt (Co), selenium (Se), dan nikel (Ni) menjadi perhatian
serius karena dapat menjadi potensi polusi pada permukaan tanah maupun air
tanah dan dapat menyebar ke daerah sekitarnya melalui air, angin, penyerapan
oleh tumbuhan bioakumulasi pada rantai makanan. Hal itu dapat menimbulkan
gangguan pada manusia, hewan, dan tumbuhan, misalnya penyakit pada manusia
akibat pencemaran kadmium dan keracunan pada hewan ternak akibat kontaminasi
selenium dan molybdenum.
Remediasi yang
diartikan sebagai perbaikan lingkungan secara umum diharapkan dapat menghindari
resiko-resiko yang ditimbulkan oleh kontaminasi logam yang berasal dari alam
(geochemical) dan akibat ulah manusia (anthropogenic). Logam dalam tanah tidak
dapat mengalami biodegradasi sehingga pembersihan kontaminan menjadi pekerjaan
yang berat dan mahal.
Ide dasar bahwa
tumbuhan dapat digunakan untuk remediasi lingkungan sudah dimulai dari tahun
1970-an. Seorang ahli geobotani di Caledonia menemukan tumbuhan Sebertia acuminata
yang dapat mengakumulasi hingga 20% Ni dalam tajuknya (Brown 1995) dan pada
tahun 1980-an, beberapa penelitian mengenai akumulasi logam berat oleh tumbuhan
sudah mengarah pada realisasi penggunaan tumbuhan untuk membersihkan polutan
(Salt 2000).
Ada beberapa strategi
fitoremediasi yang sudah digunakan secara komersial maupun masih dalam
taraf risetyaitu strategi berlandaskan pada kemampuan mengakumulasi kontaminan
(phytoextraction) atau pada kemampuan menyerap dan mentranspirasi air dari
dalam tanah (creation of hydraulic barriers). Kemampuan akar menyerap
kontaminan dari air tanah (rhizofiltration) dan kemampuan tumbuhan dalam
memetabolisme kontaminan di dalam jaringan (phytotransformation) juga digunakan
dalam strategi fitoremediasi.
Pada awal
perkembangan fitoremediasi, perhatian hanya difokuskan pada kemampuan
hiperakumulator dalam mengatasi pencemaran logam berat dan zat radioaktif,
tetapi kemudian berkembang untuk pencemar anorganik seperti arsen (As) dan
berbagai substansi garam dan nitrat, serta kontaminan organik seperti
khlorin, minyak hidrokarbon, dan
pestisida.
Potensi Tumbuhan Hiperakumulator
Secara alami tumbuhan memiliki beberapa keunggulan,
yaitu:
(i)
Beberapa famili tumbuhan memiliki sifat toleran
dan hiperakumulator terhadap logam berat;
(ii)
Banyak jenis tumbuhan dapat merombak polutan;
(iii)
Pelepasan
tumbuhan yang telah dimodifikasi secara genetik ke dalam suatu lingkungan
relatif lebih dapat dikontrol dibandingkan dengan mikrob;
(iv)
Tumbuhan memberikan nilai estetika;
(v)
Dengan perakarannya yang dapat mencapai 100 x
106 km akar per ha, tumbuhan dapat mengadakan kontak dengan bidang tanah yang
sangat luas dan penetrasi akar yang dalam;
(vi)
Dengan kemampuan fotosintesis, tumbuhan dapat
menghasilkan energi yang dapat dicurahkan selama proses detoksifikasi polutan;
(vii)
Asosiasi
tumbuhan dengan mikrob memberikan banyak nilai tambah dalam memperbaiki
kesuburan tanah (Feller 2000).
Mekanisme biologis dari hiperakumulasi unsur logam pada
dasarnya meliputi proses-proses:
(i)
Interaksi rizosferik, yaitu proses interaksi
akar tanaman dengan media tumbuh (tanah dan air). Dalam hal ini tumbuhan
hiperakumulator memiliki kemampuan untuk
melarutkan unsur logam pada rizosfer dan menyerap logam bahkan dari fraksi tanah yang tidak bergerak sekali
sehingga menjadikan penyerapan logam
oleh tumbuhan hiperakumulator melebihi tumbuhan normal (McGrath et al. 1997);
(ii)
Proses penyerapan logam oleh akar pada tumbuhan hiperakumulator
lebih cepat dibandingkan tumbuhan normal, terbukti dengan adanya konsentrasi
logam yang tinggi pada akar (Lasat 1996). Akar tumbuhan hiperakumulator
memiliki daya selektifitas yang tinggi terhadap unsur logam tertentu (Gabbrielli
et al. 1991);
(iii) Sistem translokasi unsur dari akar ke tajuk pada tumbuhan hiperakumulator lebih efisien dibandingkan tanaman normal. Hal ini dibuktikan oleh rasio konsentrasi logam tajuk/akar pada tumbuhan hiperakumulator lebih dari satu (Gabbrielli et al. 1991).
Karakteristik tumbuhan
hiperakumulator adalah:
(i)
Tahan terhadap unsur logam dalam konsentrasi
tinggi pada jaringan akar dan tajuk;
(ii)
Tingkat laju penyerapan unsur dari tanah yang
tinggi dibanding tanaman lain;
(iii)
Memiliki kemampuan mentranslokasi dan
mengakumulasi unsur logam dari akar ke
tajuk dengan laju yang tinggi.
Pada kondisi normal
konsentrasi Zn, Cd, atau Ni pada akar adalah 10 kali lebih tinggi dibanding
konsentrasi pada tajuk, tetapi pada tumbuhan hiperakumulator, konsentrasi logam
pada tajuk melebihi tingkat konsentrasi
pada akar (Brown et al. 1995a).
Dalam prakteknya, fitoremediasi
adalah menanam areal terkontaminasi dengan tumbuhan hiperakumulator. Kunci
dari keberhasilan adalah pada pemilihan jenis tumbuhan yang sesuai (Lihat Tabel
1 & 2) dan penerapan praktek-praktek agronomis serta pemberian perlakuan
baik pada tanah maupun pada tumbuhan sesuai kebutuhan. Pemanenan dilakukan
secara periodik sesuai dengan umur tumbuhan. Biomassa hasil panen yang
mengandung kontaminan diabukan dan diisolasi atau diaplikasikan ke lokasi lain
yang mengalami kekurangan. Bila setelah pemanenan ternyata kandungan bahan
pencemar masih tinggi maka penanaman diulang lagi hingga sebagian besar bahan
kontaminan terserap oleh tanaman hingga kontaminan di dalam tanah mencapai
tingkat yang tidak berbahaya lagi.
Fitoremediasi
memiliki potensi untuk dapat diterapkan pada berbagai jenis substansi, termasuk
pencemar lingkungan yang paling parah sekalipun seperti kontaminasi arsen pada
lahan bekas instalasi senjata kimia (Feller 2000). Fitoremediasi merupakan
teknologi remediasi yang menawarkan biaya paling rendah. Bila dibandingkan
biaya metode berbasis rekayasa dengan fitoremediasi untuk pembersihan logam
berat dan radioaktif adalah $10 -
$3000 berbanding $0.02 - $1 per m3 tanah
(Ebbs et al. 2000).
Untuk masa yang akan datang fitoremediasi sangat diperlukan di Indonesia mengingat setiap tahun kasus pencemaran terus bertambah jumlah dan intensitasnya. Sementara itu daya dukung tanah dan sumberdaya air semakin menurun dari waktu ke waktu. Sedikitnya 35% wilayah Indonesia sudah beralih fungsi menjadi areal pertambangan. Dengan sendirinya hal ini akan merubah bentang alam Indonesia dan menjadikan potensi pencemaran yang juga semakin besar di kemudian hari. Terlebih lagi, menurut perkiraan dalam jangka waktu tidak lama lagi akan dibuka sedikitnya empat operasi penambangan baru berskala besar diantaranya adalah di kawasan Halmahera yang terkenal memiliki ekosistem laut yang paling kaya di dunia. Dari operasi baru ini diperkirakan sedikitnya satu juta hektar hutan lindung akan terganggu dan sekitar tujuh juta penduduk akan terkena dampaknya.
Indonesia memiliki modal penting berupa keragaman hayati terbesar kedua setelah Brazil. Hal ini sangat memungkinkan untuk mendapatkan sumber tanaman hiperakumulator. Hasil penelitian melaporkan bahwa tanaman eceng gondok dapat menyerap hingga 180 ppm Pb dan telah digunakan diantaranya untuk membersihkan silver salt dari air limbah prossesing. Tanaman akar wangi yang dapat tumbuh pada media dengan kadar Pb hingga 300 ppm biasa digunakan untuk rehabilitasi lahan tercemar logam berat.
(oleh Dhini Dwi Permatasari)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar